Lebar yang mana

Lihat gambar…lebih lebar yang mana? A atau B?

Iya…kepanjangan dari kata Lebaran itu sebenarnya adalah “lebar-lebaran”. Kata ulang berimbuhan ini memiliki arti bahwa beberapa hal saling beradu untuk menentukan sesuatu yang lebih daripada yang lain. Jadi, kata lebar-lebaran ini artinya kita saling beradu siapa yang lebih lebar…siapa yang lebih wah…siapa yang lebih wow…!

Nach, sesuai dengan pengertian ini, makanya setiap menjelang Lebaran orang2x pada hobi belanja, entah itu beli baju Lebaran maupun kue Lebaran. Semuanya baru. Dan bukan gak mungkin ada juga yang namanya mobil Lebaran, rumah Lebaran, istri Lebaran, dll. Perhatikan bahwa kata Lebaran selalu muncul di belakang kata pertama yang mengartikan bahwa barang yang disebutkan pada kata pertama merupakan barang yang memang diperuntukkan untuk dipakai pada momen Lebaran saat itu saja. Selepas Lebaran gimana donk? Ya…terserah dia lah.

Dan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi jika suatu barang akan dibeli untuk momen Lebaran tersebut. Salah satu syarat yang dimaksud adalah syarat yang sesuai dengan makna Lebaran itu sendiri, yaitu bahwa barang tersebut haruslah lebih lebar, lebih wah, dan lebih wow daripada yang lain. Makanya jangan heran kalau tiap Lebaran, orang2x berusaha untuk tampil lebih kece daripada orang lain, pake baju baru, sarung baru, ataupun sandal baru. Dan ada pula yang bener2x nenteng istri baru.

Di kalangan ekonomi atas, fenomena lebar-lebaran ini bisa muncul pada berbagai macam barang Lebaran. Mulai dari pembantu Lebaran, hingga kapal pesiar Lebaran. Sedangkan pada kalangan ekonomi menengah, fenomena ini terlihat mulai dari kue Lebaran, pakaian Lebaran, hingga perabot rumah Lebaran. Ada lagi yang lebih wah! Kalangan ekonomi bawah justru lebih buas saat menjelang lebaran gini. Belanjanya gak ketulungan! Entah beli kacamata hitam Rayban Lebaran, handphone Lebaran, hingga perhiasan emas Lebaran. Ckck.

Gak cuma orang yang make barang doank lho yang suka lebih2xan gitu. Sang penjual barang pun gak mau ketinggalan trend ini. Liat aja, harga barang2x pada naik. Mulai dari penjaja minuman, penjaja sayuran, hingga penjaja seks yang berani turun ke jalanan pun menaikkan tarifnya.

Okay, setelah barang2x tadi dibeli…it’s show time! Tinggal pamerin dech. Ajang pamer2x ini biasanya terjadi ketika orang2x saling berkunjung untuk halal bi halal selepas shalat Ied. Biasalah…biasanya di rumah pas ibu2x ngobrol. Apakah anda pernah dengan benar2x memerhatikan percakapan para ibu tersebut? Mari kita saksikan!

Ibu A : “Ya ampun Jeng, kalung platina 24 karat 100 gram-nya bagus banget!”
Ibu B : “Ach…Ibu bisa aja…biasa…cuma pake shampo kok.”
Ibu A : “Oh…gitu…! Anak Ibu yang perempuan itu cantik ya.”
Ibu B : “Iya…mirip nenek moyangnya kan?”

Anda lihat? Demikianlah percakapan yang terjadi. Ajaib memang.

Anyway, oleh karena itu kawan2x, mari kita sukseskan Lebaran. Ayo ramaikan pusat perbelanjaan. Setelah 30 hari berpuasa, sudah saatnya kita manjakan diri kita. Tiada hari tanpa belanja. Yes!

—cast—
Pemeran Ibu A = jari tangan kanan penulis
Pemeran Ibu B = jari tangan kiri penulis

5 Responses to “LEBARAN itu LEBAR-lebarAN…!”

  1. wiwien Says:

    bwahahahaha….
    ups, jelek bgt ketawanya gw.. :p
    .
    .
    .
    .
    Minal Aidin walfaidzin yah Pak..
    Mohon maaph lahir dan bathin..
    maap kalo gw pernah ada salah2 tulisan, kata ato perbuatan.. :D

  2. nico Says:

    parah lu bud!!:) emang penjaja seks juga naikin harga?koq lu tau bud?????klo lu gimana bud?ikut lebar-lebaran ga?anyway,met lebaran yaaaa!!

  3. ar!ef Says:

    Lo emang laknat, Bud! Sesat!
    Mohon maaf lahir & batin.

  4. budiaji Says:

    Yach…mari kita rayakan Lebaran kali ini!
    Inga-inga! Belanja rame-rame!
    Mohon maaf lahir dan batin.


  5. Syawal adalah akhir. Ia juga permulaan. Akhir dari rital suci Ramadan. Akhir dari keterburu-buruan spiritual yang begitu bersemangat agar tak tertinggal parsel ampunan dan tiket penukar kavling surga. Karena itu, Syawal menjadi awal dari sebuah kefanaan yang kembali pulang. Fana yang terusir sejenak oleh Ramadan.

    Jika Goenawan Mohamad terang-terangan menyebut bahwa yang dirayakan Ramadan adalah kekosongan (Tatal 59), izinkan saya melengkapinya: Syawal diciptakan untuk mengisi kekosongan itu.

    Awal Syawal adalah lebaran. Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini “kemewahan”.

    Hari ini, pesta itu telah usai. Topeng-topeng dengan karakter penuh maaf telah teronggok di pojok kursi cadangan. Ia baru akan berguna lagi pada satu tahun mendatang. Wajah-wajah pun kembali sibuk dengan topeng-topeng yang lain: Topeng yang selama awal Syawal teronggok di kursi cadangan. Topeng serakah, topeng juru culas, topeng pendusta, topeng ahli keji, bla…bla..bla.

    http://kalipaksi.com/2009/09/28/topeng-bulan-syawal/


Leave a Reply