Hari Minggu malem, demi merayakan datangnya hari Senin yang jatuh pada tanggal 6 November 2006, gue memilih untuk nonton film di BSM 21. Banyak film baru nich…jadi sempet bingung antara mau nonton film…atau gak. Hehe! Akhirnya, pilihan terlempar dan jatuh pada…jreng jreeeng (suara orkestra di atas panggung)…Denias, Senandung di Atas Awan…plok plok plaaak…film garapannya seseorang yang dibintangi oleh orang-orang lainnya. Wah, film ini bagus banget lho. Nonton ya. Nach, sekian review dari saya. Terima kasih. Mari kita bicarakan topik selanjutnya. :P

Haha, tambah garink aja gue dari hari ke hari. Jadi begini…berhubung gue tercolek dengan sukses oleh film ini, gue jadi sedikit tergelitik mesra untuk menuliskan sedikit review tentang film ini. Jujur, awalnya gue gak terlalu berharap banyak ama film ini. Yach, gue pikir…paling2x film Indonesia biasa tentang anak kecil dan bla bla bla. Tapi…plak…ouch! Gue tertampar. Sekali lagi gue berhasil membuktikan kepada dunia bahwa gue pun tidak sempurna…yach, sama ajalah kaya’Brad Pitt, Antonio Banderas, dan Tom Cruise. Gue tetep bisa bikin salah…walau gue tampan, cakep, seksi, ramah, cerdas, dan segudang karakter penuh kesempurnaan dari buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP) ataupun PPKn (yang alhamdulillah gue lupa singkatannya apa) lainnya yang gak akan gue tulis di sini karena gue orangnya rendah hati, sopan, santun, tenggang rasa, kebersamaan, dll. Ya, gue akui dengan jantan kawan2x semua…gue salah. Ternyata film ini bagus banget. :)

Film ini mengambil setting di Papua, pulau yang ternyata indah! Gak cuma karena adanya banyak makhluk tanpa busana (wow!) seperti kuskus, ikan, dan sebagainya (haha!), tapi juga karena alamnya yang mantabh. Iya! Hutannya itu lho…yakin dech gak perlu dites di dokter…cukup diliat aja udah bisa ketauan betapa masih perawan ting2x-nya, gunung2xnya yang berserakan di mana2x juga masih belom pernah dijamah, apalagi hewan2x nakalnya. Haha! Top banget! Salut buat Papua.

Ech, kembali ke film. Film ini mengisahkan tentang anak kampung Papua yang semangat banget pengen sekolah! Gila tuch bocah! Padahal alesannya agak gokil bin aneh. Nich gue kutip, baca dengan logat papua ya : “Nama saya Denias. Mama saya suruh saya sekolah. Karena dia bilang gunung takut pada anak sekolah.” Bwuahahahaha…alesannya…lugu atau bodo…perbedaannya memang setipis pembalut. Hehe!

Kisah dimulai dengan segelintir anak kampung di Papua yang belajar di sekolah darurat yang seadanya aja, gak cuma bangunannya yang tanpa dinding, tapi juga gurunya yang cuma sebatang. Di situlah si makhluk berjudul Denias ini bersekolah. Suatu hari Ibu Denias wafat dengan meninggalkan pesan yang jadi pendorong Denias untuk terus bersekolah. Namun kemudian…sang guru pergi dari Papua. Nach, di sini nich munculnya peran Ari Sihasale sebagai tentara TNI bernama Maleo mencuri hatiku (aih!). Kaya’gitu tuch harusnya TNI! Tak lama, sekolah Denias roboh dan Maleo pun sudah harus pergi dari Papua. Akhirnya Denias pergi ke kota demi melanjutkan sekolah. Anyway, jangan pikir sekolahnya kaya’di Pulau Jawa sini yang jarak tiap sekolahnya cuma sejengkal. Jauh booow! :cry:

Gue cut ach! Anggep aja Denias ketemu Gatotkaca di tengah jalan, terus Denias dianterin terbang sampai ke kota dech. Padahal aslinya sich berlari bugil kaki ngelewatin banyak gunung dan sungai. Bekal yang dia bawa ke kota cuma bola sepak, buku tulis, dan peta Indonesia bikinan Maleo. Cerita berlanjut hingga dia bertemu teman baru bernama Enos, maling lucu berhati seputih kapas berkulit sehitam batubara berambut Bob Marley. Kisah terus berjalan…hingga Denias bertemu Ibu Gembala yang diperankan Marcella Zalianty. Dia ini nich yang bantuin Denias biar bisa diterima di sekolah. Masih banyak ya orang baik di dunia. Senang. Btw, Denias berjuang lho biar bisa diterima di sekolah. Di sekolah itu dia ketemu musuh bebuyutannya, si anak kepala suku. Wuih keren dech. Udah ach, sekian review-nya.

Oh iya, hampir lupa. Sambutlah pendatang baru kita, pemeran Angel dalam film Denias. Penampilannya yang manis berhasil memberi bumbu romance pada film ini. Yach, sambutlah Pevita Eileen Pearce! Foto di bawah (terlarang untuk para pengidap Lolita Complex dan Pedofilia) :

Pevita Eileen Pearce

Tadi pagi gue liat dia maen iklan Attack Color lho. Bolehlah. ;)

Hampir lupa lagi, film ini bener2x didasarkan pada kisah asli lho, cuma namanya agak beda. Nama aslinya Janias, dan sekarang beliau ini bersekolah di Darwin, Australia, dengan beasiswa dari PT. Freeport Indonesia. Salut buat Janias. Salut buat pemeran Denias. Dan salut buat Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen yang berhasil memproduksi sebuah film mengagumkan sebagai film pertama dari rumah produksi yang baru mereka buat, Alenia Pictures. Selamat.

Terakhir, gue anugrahi film ini Budiaji Award sebagai Best Indonesian Movie of The Year. Selamat ya kawan. :D