Abis Lulus Mau Ngapain…?

November 13, 2006

Kebun Binatang Bandung

Abis lulus? Yach, lulus aja belum. Duh, ngomongin masa depan emang agak berat ya. Apalagi k-lo emang loe belum punya clue apa2x…belum bisa ngeliat apapun di depan loe…cuma gelap…samar2x…! Wah…berarti loe butuh kacamata, awas nabrak. Hehe! Ech, tapi gue mau cerita dikit dulu nich.

Foto di atas adalah foto pintu gerbang Kebun Binatang Bandung yang letaknya tidak jauh dari kampus ITB. Di mana sich tepatnya? Tepat di samping kampus kok, jaraknya hanya beberapa kaki dari kampus, hanya dipisahkan oleh sebuah jalan dengan kampus, hanya berjarak beberapa detik dari kampus, dan bahkan bisik2x para penghuninya dapat terdengar dengan amat jelas dari kampus, apalagi letak Kebun Binatang dan kampus ITB pada buku atlas peta dunia jaman gue SD berada tepat di satu titik yang sama sekali tak terlihat. Ya, betul kawan2x semua, ITB bertetangga dengan makhluk2x liar tanpa busana yang bersemayam di kandangnya masing2x. Hebat sekali bukan? Dan yang paling hebatnya…udah sedeket itupun…sampai sekarang tetep belum pernah gue kunjungi. πŸ˜›

Kenapa belum pernah gue kunjungi? Karena gue bukan anak ITB? Sayang sekali harus mengecewakan anda semua…gue masih anak ITB (sial! udah 4 tahun lebih masih juga jadi anak ITB?!). Karena gue gak punya duit buat bayar tiket masuk Kebun Binatang? Weits, sorry banget, celengan ayam jago gue di rumah justru lagi montok2xnya. Karena gue gak punya waktu kosong? Sialnya, gue punya banyak banget, kelebihan malah sehingga sering gue bagikan kepada orang2x yang membutuhkan. Karena Kebun Binatang tersebut tidak menarik minat gue? Gak kok, malah tergoda dan bahkan berhasrat, yang hingga kini belum tersalurkan.

Yach…penyebab sebenernya adalah adanya sebuah mitos. Sejak pertama kali gue masuk ke kampus dulu, gue udah denger mitos ini. Mitos apakah? Konon…setiap mahasiswa ITB bakal kena kutukan seandainya berani masuk ke Kebun Binatang Bandung. Alkisah, jaman dahulu kala ada sebuah kutukan, entah siapa yang mengutuk (apa itu mengutuk? itu lho…k-lo mau masuk rumah orang, harus mengutuk pintu terlebih dahulu). Em, kurang lebih begini bunyi kutukannya : πŸ™„

Wahai mahasiswa ITB yang cakep2x dan lucu2x, dengarkan sabdaku ini, siapapun diantara kalian yang berani memasuki pintu larangan (baca : Gerbang Kebun Binatang), niscaya mahasiswa tersebut baru bisa lulus dari ITB paling cepat dalam waktu 7 tahun.” Jedeeer (suara petir menggelegar)! 😑

Aih, serem bow! Berhubung gue termasuk salah satu subjek yang tersebutkan 8) (lihat huruf yang digaris bawahi) di kutukan itu, jelas gue merasa waswas donk. Ada rasa tak tenang menghinggapi diri gue. Jelas gue kalut. Agh! Apa2xan sich?! Hingga akhirnya gue gak pernah mengunjungi tempat itu. Dan gue yakin, banyak banget orang yang sejak mulai menyandang simbol gajah bengkak (baca : baru masuk kampus) sampai akhirnya berhasil lolos dari himpitan si gajah tersebut (baca : sudah lulus) pasti belum pernah mengunjungi rumah tetangga sebelah gara2x kutukan ini. πŸ˜‰

Anyway, sedikit penasaran dengan kutukan ini, gue pernah melakukan penyelidikan mengenai “Kok bisa sich ada kutukan kaya’gini”? Yach, sampai sekarang pertanyaan itu tetep belum kejawab sich. Tapi ternyata…temen seangkatan gue di ITB punya sedikit fakta yang mengejutkan. Berikut kutipan percakapan antara gue dengan temen gue :

A : “Tau kutukan Kebun Binatang samping ITB yang soal lulus 7 taun itu gak?”
B : “Wah, k-lo itu sich udah ada sejak jaman emak gue kuliah di sini.”
C : “Hah?! Serius loe?!”
D : “Iya, makanya emak gue dulu gak pernah ke kebon binatang situ.”
E : “Oh, emak loe selamet donk yee gak lulus 7 taun.”
F : “E…gak ngaruh…emak gue tetep aja lulusnya 7 taun.”
G : “Lha?” 😯

Ini kejadian nyata lho. Beneran dech. Gue itung2x, berarti emaknya temen gue itu udah mulai kuliah sekitar taun 1970an akhir. Dan hebatnya, udah ganti millenium gini pun mitos itu masih tetap kekal. Hebat. Sebagian temen seangkatan gue ada sich yang mencoba menantang dan mematahkan kutukan ini. Dan alhamdulillah, ternyata…mereka tetap masih berada di kampus ini bersama gue. Huehehehe! Jadi k-lo sekarang ada orang yang nanya ke gue soal masa depan. Mungkin pertanyaan semisal mau ngapain setelah lulus? Sederhana aja sich jawabannya, mau ke Kebun Binatang…! (Agh, gak bener banget ya? Aaaa! Tolooong! Wonder Womaaan…bantu aku keluar dari sini!) πŸ˜₯

—Pemeran—
A : Si Cakep
B : Temen Si Cakep
C : Si Cakep lagi
D : Temen Si Cakep lagi juga
E : Si Cakep lagi dech
F : Temen Si Cakep gak mau kalah
G : Pokoknya tetep Si Cakep yang menang! Yes!
(ehem, tentu pembaca dapat memutuskan dengan mudah kan mengenai siapakah pemeran Si Cakep. terima kasih lho. 8) )

Advertisements

Lebar yang mana

Lihat gambar…lebih lebar yang mana? A atau B?

Iya…kepanjangan dari kata Lebaran itu sebenarnya adalah “lebar-lebaran”. Kata ulang berimbuhan ini memiliki arti bahwa beberapa hal saling beradu untuk menentukan sesuatu yang lebih daripada yang lain. Jadi, kata lebar-lebaran ini artinya kita saling beradu siapa yang lebih lebar…siapa yang lebih wah…siapa yang lebih wow…!

Nach, sesuai dengan pengertian ini, makanya setiap menjelang Lebaran orang2x pada hobi belanja, entah itu beli baju Lebaran maupun kue Lebaran. Semuanya baru. Dan bukan gak mungkin ada juga yang namanya mobil Lebaran, rumah Lebaran, istri Lebaran, dll. Perhatikan bahwa kata Lebaran selalu muncul di belakang kata pertama yang mengartikan bahwa barang yang disebutkan pada kata pertama merupakan barang yang memang diperuntukkan untuk dipakai pada momen Lebaran saat itu saja. Selepas Lebaran gimana donk? Ya…terserah dia lah.

Dan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi jika suatu barang akan dibeli untuk momen Lebaran tersebut. Salah satu syarat yang dimaksud adalah syarat yang sesuai dengan makna Lebaran itu sendiri, yaitu bahwa barang tersebut haruslah lebih lebar, lebih wah, dan lebih wow daripada yang lain. Makanya jangan heran kalau tiap Lebaran, orang2x berusaha untuk tampil lebih kece daripada orang lain, pake baju baru, sarung baru, ataupun sandal baru. Dan ada pula yang bener2x nenteng istri baru.

Di kalangan ekonomi atas, fenomena lebar-lebaran ini bisa muncul pada berbagai macam barang Lebaran. Mulai dari pembantu Lebaran, hingga kapal pesiar Lebaran. Sedangkan pada kalangan ekonomi menengah, fenomena ini terlihat mulai dari kue Lebaran, pakaian Lebaran, hingga perabot rumah Lebaran. Ada lagi yang lebih wah! Kalangan ekonomi bawah justru lebih buas saat menjelang lebaran gini. Belanjanya gak ketulungan! Entah beli kacamata hitam Rayban Lebaran, handphone Lebaran, hingga perhiasan emas Lebaran. Ckck.

Gak cuma orang yang make barang doank lho yang suka lebih2xan gitu. Sang penjual barang pun gak mau ketinggalan trend ini. Liat aja, harga barang2x pada naik. Mulai dari penjaja minuman, penjaja sayuran, hingga penjaja seks yang berani turun ke jalanan pun menaikkan tarifnya.

Okay, setelah barang2x tadi dibeli…it’s show time! Tinggal pamerin dech. Ajang pamer2x ini biasanya terjadi ketika orang2x saling berkunjung untuk halal bi halal selepas shalat Ied. Biasalah…biasanya di rumah pas ibu2x ngobrol. Apakah anda pernah dengan benar2x memerhatikan percakapan para ibu tersebut? Mari kita saksikan!

Ibu A : “Ya ampun Jeng, kalung platina 24 karat 100 gram-nya bagus banget!”
Ibu B : “Ach…Ibu bisa aja…biasa…cuma pake shampo kok.”
Ibu A : “Oh…gitu…! Anak Ibu yang perempuan itu cantik ya.”
Ibu B : “Iya…mirip nenek moyangnya kan?”

Anda lihat? Demikianlah percakapan yang terjadi. Ajaib memang.

Anyway, oleh karena itu kawan2x, mari kita sukseskan Lebaran. Ayo ramaikan pusat perbelanjaan. Setelah 30 hari berpuasa, sudah saatnya kita manjakan diri kita. Tiada hari tanpa belanja. Yes!

—cast—
Pemeran Ibu A = jari tangan kanan penulis
Pemeran Ibu B = jari tangan kiri penulis