Tiket Bioskop Blitz Megaplex

Bosan menonton film di bioskop yang itu2x saja (baca : bioskop 21)?
Bosan melahap makanan yang itu2x saja (baca : popcorn 21) saat menonton di bioskop?
Bosan duduk di kursi yang itu2x saja (baca : kursi 21) selama menonton di bioskop?
Bosan harus menatap layar yang itu2x saja (baca : layar 21) saat menonton di bioskop?
Bosan ngecengin mbak2x yang itu2x saja (baca : mbak2x 21) tapi gak pernah dapat?
Bosan harus membayar tiket (baca : tiket 21) untuk menonton film di bioskop?

Gue tahu solusinya! Gampank, gak usah nonton ajalah sekalian! Dasar! Rese’banget sich! Bayar murah aja minta macem2x! Parah! 😑

Ehem, beberapa hari yang lalu gue dan Nyonya abis nonton film di bioskop baru di kota Bandung, Blitz Megaplex. Beberapa hari sebelum beberapa hari yang lalunya lagi juga gue abis nonton di situ. Ehem, ehem. Keren kan? 8) Tapi, agak hedon memang. Celengan ayam jago gue kaya’nya mulai jadi agak cungkrink nich. Padahal masih mahasiswa. πŸ˜₯ Kasian banget kan? Nach, bagi yang merasa kasihan dan ingin menyumbang demi kelangsungan hidup gue, silakan kontak gue langsung di budiaji[underscore]hartono[at]yahoo[dot]co[dot]id, atau langsung aja transfer uang ke rekening BNI, BCA, atau Bank Muamalat (bisa minta nomer rekeningnya ke gue). Amat disarankan untuk mengirim ke tiga rekening tersebut sekaligus. Bantuan yang anda kirimkan akan dipergunakan dengan bijak dan akan langsung diberikan kepada yang membutuhkan. Sayangilah binatang. πŸ˜›

Oh iya, foto di atas itu adalah foto tiket bioskop Blitz Megaplex lho. Gue abis nonton World Trade Center dan Open Season. Tapi sekarang gue gak bakal membahas soal film yang gue tonton. Standar banget soalnya. Satu film bercerita tentang Nicholas Cage jinak yang dilepas sama penjaga hutan ke alam liar pas lagi musim berburu, satu film lainnya lagi tentang beruang yang kejepit di antara reruntuhan gedung WTC bareng seekor rusa pas lagi mau nolong orang. Tidak perlu kaget. Memang film sekarang sering aneh2x gitu kok. Tapi…berasa ada yang salah ya? Tau ach, lebih baik gue bahas soal Blitz Megaplex-nya aja dech. Kaya’ngiklanin gini sich, tapi gak apa2x dech, soalnya gue lumayan kesengsem nich ama bioskop baru ini. 😳

Bioskop ini memiliki 9 studio dengan kapasitas penonton lebih dari 2.000 makhluk. Terletak di Paris Van Java, letak tepatnya dapat dilihat di peta ini. Sedikit bercerita tentang Paris Van Java, ini adalah mall baru yang di dalamnya terdapat Carrefour, food court, toko perhiasan dan toko pakaian. Saran buat para mahasiswa, jangan coba2x liat label harga pakaian di beberapa toko pakaian di sana, bisa nangis darah loe pada. Ingat, JANGAN! Kembali ke topik, saat ini Paris Van Java memang masih belum selesai dibangun, tapi tiap kali gue dateng ke situ pasti banyak banget orang yang dateng, mungkin karena pada penasaran pengen liat gue kali ya. Hoho! Ech, k-lo loe ke Carrefour, gue sarankan loe untuk bertamasya ke toiletnya dech. Jangan lupa bawa bekal. Lumayan bagus soalnya, dibandingin toilet Blitz Megaplex yang biasa banget. Loe bakal betah dech berlama2x di situ. Bawa tiker sekalian k-lo perlu, jadi bisa piknik. Hehe

Hm, pertama kali gue nonton di Blitz Megaplex, gue agak kecewa. Begini, studio yang gue cicipin pertama tuch studio 4. Studio ini letaknya di lantai atas dan k-lo loe mau ke situ loe harus naik tangga dulu. Parah, dia gak ngasih eskalator, padahal jaraknya lumayan jauh. Begini caranya sich jelas dia kehilangan pelanggannya yang keberatan k-lo harus naik tangga, diantaranya : pengguna kursi roda, kakek dan nenek yang sudah tua renta, pinguin, belut, ikan lele, ikan gurame, ikan mas, dan masih banyak lagi ikan lainnya. Emang sich ruangan bioskopnya gede, tapi layarnya kaya’nya gak gede2x amat ach, kursinya juga gak terlalu nyaman soalnya ukurannya kecil dan agak keras. Tubuh gue yang manis manja ini jelas gak terbiasa dengan fasilitas gini. πŸ˜› Tapi…kedua kalinya gue ke situ, gue baru puas. Selain karena gue emang dateng pas nomat (cuma 15.000 perak!), ternyata, beda studio tuch beda juga fasilitasnya. Studio yang gue cicipin selanjutnya ini adalah studio 7 yang letaknya di lantai bawah. Kursi di studio ini lebih gede, lebih empuk dan lebih nyaman daripada studio 4, walau memang ukuran ruangannya lebih kecil. Gak masalah. Baru berasa nich yang namanya Blitz Megaplex. Bagus, memuaskan. Perhatikan bahwa gue menggarisbawahi beberapa kata di atas karena gue berpikir di situlah adanya perbedaan fasilitas pada studio2x di sini. Kaya’nya emang studio lantai bawah beda dengan studio lantai atas dech. Makanya…berdasar pengalaman gue ini, gue berani mengambil kesimpulan…bahwa…SBY emang tepat untuk jadi Presiden RI. Gitu. (Lho?)

Tips dari gue :

  1. K-lo loe bawa mobil, mending loe geletakin mobil loe di parkiran lantai atas aja. Jalan menuju ke sana bisa loe tanyakan kepada para pegawai parkiran yang bajunya sering berganti warna, k-lo siang warnanya terang, k-lo malem warnanya gelap. πŸ˜› Dan begitu turun dari mobil, loe bisa langsung masuk ke pintu Blitz Megaplex.
  2. K-lo loe lagi mau make eskalator, tapi eskalatornya mati, jangan berhenti wahai orang udik, langsung naek aja, dan bukan sulap bukan sihir, niscaya sang eskalator akan bergerak secara otomatis. Karena make sistem sensor. Kok tau? Iya donk, itulah yang namanya elektro…tukang eskalator…! 8)
  3. K-lo loe udah naik eskalator yang awalnya diam, dan bahkan tetap diam tak bergeming ketika loe sudah naik di atasnya, maka segeralah turun dan usahakan jangan ada yang liat. Malu. Karena itu artinya eskalatornya rusak atau belum bisa dipake. Makanya jangan sotoy. Hehe!
  4. K-lo loe liat karya seni dari pasir yang berbentuk lumba2x di mall situ, tolong bikin bolongan di bokongnya ya, terus titip salam dari gue. Kemarin tergoda pengen ngisengin tapi gak jadi. πŸ˜›

Sekian. Sampai jumpa di bioskop terdekat di kota anda. πŸ™‚

Abis Lulus Mau Ngapain…?

November 13, 2006

Kebun Binatang Bandung

Abis lulus? Yach, lulus aja belum. Duh, ngomongin masa depan emang agak berat ya. Apalagi k-lo emang loe belum punya clue apa2x…belum bisa ngeliat apapun di depan loe…cuma gelap…samar2x…! Wah…berarti loe butuh kacamata, awas nabrak. Hehe! Ech, tapi gue mau cerita dikit dulu nich.

Foto di atas adalah foto pintu gerbang Kebun Binatang Bandung yang letaknya tidak jauh dari kampus ITB. Di mana sich tepatnya? Tepat di samping kampus kok, jaraknya hanya beberapa kaki dari kampus, hanya dipisahkan oleh sebuah jalan dengan kampus, hanya berjarak beberapa detik dari kampus, dan bahkan bisik2x para penghuninya dapat terdengar dengan amat jelas dari kampus, apalagi letak Kebun Binatang dan kampus ITB pada buku atlas peta dunia jaman gue SD berada tepat di satu titik yang sama sekali tak terlihat. Ya, betul kawan2x semua, ITB bertetangga dengan makhluk2x liar tanpa busana yang bersemayam di kandangnya masing2x. Hebat sekali bukan? Dan yang paling hebatnya…udah sedeket itupun…sampai sekarang tetep belum pernah gue kunjungi. πŸ˜›

Kenapa belum pernah gue kunjungi? Karena gue bukan anak ITB? Sayang sekali harus mengecewakan anda semua…gue masih anak ITB (sial! udah 4 tahun lebih masih juga jadi anak ITB?!). Karena gue gak punya duit buat bayar tiket masuk Kebun Binatang? Weits, sorry banget, celengan ayam jago gue di rumah justru lagi montok2xnya. Karena gue gak punya waktu kosong? Sialnya, gue punya banyak banget, kelebihan malah sehingga sering gue bagikan kepada orang2x yang membutuhkan. Karena Kebun Binatang tersebut tidak menarik minat gue? Gak kok, malah tergoda dan bahkan berhasrat, yang hingga kini belum tersalurkan.

Yach…penyebab sebenernya adalah adanya sebuah mitos. Sejak pertama kali gue masuk ke kampus dulu, gue udah denger mitos ini. Mitos apakah? Konon…setiap mahasiswa ITB bakal kena kutukan seandainya berani masuk ke Kebun Binatang Bandung. Alkisah, jaman dahulu kala ada sebuah kutukan, entah siapa yang mengutuk (apa itu mengutuk? itu lho…k-lo mau masuk rumah orang, harus mengutuk pintu terlebih dahulu). Em, kurang lebih begini bunyi kutukannya : πŸ™„

Wahai mahasiswa ITB yang cakep2x dan lucu2x, dengarkan sabdaku ini, siapapun diantara kalian yang berani memasuki pintu larangan (baca : Gerbang Kebun Binatang), niscaya mahasiswa tersebut baru bisa lulus dari ITB paling cepat dalam waktu 7 tahun.” Jedeeer (suara petir menggelegar)! 😑

Aih, serem bow! Berhubung gue termasuk salah satu subjek yang tersebutkan 8) (lihat huruf yang digaris bawahi) di kutukan itu, jelas gue merasa waswas donk. Ada rasa tak tenang menghinggapi diri gue. Jelas gue kalut. Agh! Apa2xan sich?! Hingga akhirnya gue gak pernah mengunjungi tempat itu. Dan gue yakin, banyak banget orang yang sejak mulai menyandang simbol gajah bengkak (baca : baru masuk kampus) sampai akhirnya berhasil lolos dari himpitan si gajah tersebut (baca : sudah lulus) pasti belum pernah mengunjungi rumah tetangga sebelah gara2x kutukan ini. πŸ˜‰

Anyway, sedikit penasaran dengan kutukan ini, gue pernah melakukan penyelidikan mengenai “Kok bisa sich ada kutukan kaya’gini”? Yach, sampai sekarang pertanyaan itu tetep belum kejawab sich. Tapi ternyata…temen seangkatan gue di ITB punya sedikit fakta yang mengejutkan. Berikut kutipan percakapan antara gue dengan temen gue :

A : “Tau kutukan Kebun Binatang samping ITB yang soal lulus 7 taun itu gak?”
B : “Wah, k-lo itu sich udah ada sejak jaman emak gue kuliah di sini.”
C : “Hah?! Serius loe?!”
D : “Iya, makanya emak gue dulu gak pernah ke kebon binatang situ.”
E : “Oh, emak loe selamet donk yee gak lulus 7 taun.”
F : “E…gak ngaruh…emak gue tetep aja lulusnya 7 taun.”
G : “Lha?” 😯

Ini kejadian nyata lho. Beneran dech. Gue itung2x, berarti emaknya temen gue itu udah mulai kuliah sekitar taun 1970an akhir. Dan hebatnya, udah ganti millenium gini pun mitos itu masih tetap kekal. Hebat. Sebagian temen seangkatan gue ada sich yang mencoba menantang dan mematahkan kutukan ini. Dan alhamdulillah, ternyata…mereka tetap masih berada di kampus ini bersama gue. Huehehehe! Jadi k-lo sekarang ada orang yang nanya ke gue soal masa depan. Mungkin pertanyaan semisal mau ngapain setelah lulus? Sederhana aja sich jawabannya, mau ke Kebun Binatang…! (Agh, gak bener banget ya? Aaaa! Tolooong! Wonder Womaaan…bantu aku keluar dari sini!) πŸ˜₯

—Pemeran—
A : Si Cakep
B : Temen Si Cakep
C : Si Cakep lagi
D : Temen Si Cakep lagi juga
E : Si Cakep lagi dech
F : Temen Si Cakep gak mau kalah
G : Pokoknya tetep Si Cakep yang menang! Yes!
(ehem, tentu pembaca dapat memutuskan dengan mudah kan mengenai siapakah pemeran Si Cakep. terima kasih lho. 8) )

Logo ITB
Hari2x ini gue mulae males banget dech mau bawa mobil ke kampus. Selain karena mobil gue sekarang hobinya menyantap Pertamax yang harganya agak menikam dompet, juga karena susahnya nyari parkir di lapangan parkir sekitar kampus. Duh, susahnya mampus2xan dech buat markir mobil. K-lo dateng pagi sich masih mungkin buat nemu tempat parkir. Tapi masa’gue harus dateng pagi2x tiap hari cuma bela2xin demi dapet tempat parkir doank?! Shalat Subuh aja masih sering gue jamak pas shalat Zuhur saking gak bisanya bangun sebelum matahari tenggelam. Hehe, emangnya drakula? Tapi…sepagi apa gue harus dateng?! Wong jam 7 aja parkiran udah hiruk pikuk gila2xan gitu, ada yang jualan sayur, daging, mainan anak (huahaha! parkiran apa pasar?!). Macem2xlah pokoknya, rame. Capeee deeee!

Sedikit nostalgia…rasanya beda banget dech sama jaman gue baru masuk kampus ITB tercinta. Waktu gue masih belia, tiny winnie honey bunny, pas lagi lucu2xnya gitu dech di tingkat 1, parkiran tuch kosong melompong sampai bisa dipake buat maen sepakbola. Bahkan tukang parkir aja ampe rebutan mau ngelayanin. Wah, enak banget dech pokoknya, berasa raja padahal aselinya sopir. Mobil gue aja sampai bisa diparkir melintang ngabisin jatah 10 mobil, parkir melayang sampai tabrakan sama burung2x di atas, bahkan parkir telentang sambil liat awan pun bisa. E, agak hiperbolis ya? Hehe!

Yach, anyway, fenomena sesaknya lapangan parkir ini mulai gue rasakan sejak ITB membuka USM-ITB, itu lho…jalur penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan secara mandiri oleh ITB. Sejak saat itulah, secara bertahap sesuai dengan deret geometri tak hingga…muncul mobil2x di lapangan parkir ITB, mulai dari mobil mainan anak2x yang gak bermesin, terus mobil yang mesinnya di mana2x (baca : mobil gue sebelumnya…Isuzu Panther, di mana2x bergetar, jelas mesinnya di mana2x, gak cuma di depan, di tengah dan di belakang juga bermesin), dan sampai akhirnya kembali ke mobil yang seakan tak bermesin (contoh : Mercy, beda 180 derajat sama mobil gue, getarannya hampir raib seakan mesinnya di Dunia Lain…jadi mupeng). Huaaah! sampai akhirnya lapangan parkirnya yang terpaksa ngalah. Lapangan parkir lama diancurin, diganti dengan yang baru, yang bisa nampung lebih banyak mobil. So, gampangnya…gak salah2x amat dech kaya’nya k-lo gue bilang…semakin banyak orang tajir di ITB. Banyak banget yang punya mobil sich.

Ech, temen gue komplain, katanya parkiran motor juga gak mau kalah ama mobil. Sekarang nyari parkiran buat motor juga udah berasa mirip nyari ikan pari di got. Lho? Kenapa ikan pari? Ya masa’ikan paus? Kan keliatan banget bo’ongnya. Halah. Tapi…k-lo fenomena motor ini masuk kategori akibat banyaknya orang tajir di ITB gak ya? Hm…susah.

Tapi, bukan berarti gue anti ama orang tajir lho. Seneng kok makin banyak orang tajir. Soalnya fasilitas kan jadi makin banyak dan bagus. Hoho! Gue cuma anti aja ama orang2x yang ngambil tempat parkir gue. Balikin tempat parkir gue! Balikin laptop gue, handphone gue, buku tabungan gue (sorry agak gak nyambung…gue pernah kemalingan, jadi sekalian nitip di sini, balikin ya…plis…sapa tau malingnya baca blog gue)! Balikin masa muda gue (yang ini sich…pengen aja…hehe)! Balikin! Ech, tapi…jangan2x sebenernya gue yang salah. Jangan2x lapangan parkir ITB penuh gara2x makhluk kaya’gue…udah tua tapi masih belom minggat dari kampus. πŸ˜†

Udah ach, mau nyari parkiran dulu…! Wish me luck guyz…! πŸ˜›

Hari Minggu malem, demi merayakan datangnya hari Senin yang jatuh pada tanggal 6 November 2006, gue memilih untuk nonton film di BSM 21. Banyak film baru nich…jadi sempet bingung antara mau nonton film…atau gak. Hehe! Akhirnya, pilihan terlempar dan jatuh pada…jreng jreeeng (suara orkestra di atas panggung)…Denias, Senandung di Atas Awan…plok plok plaaak…film garapannya seseorang yang dibintangi oleh orang-orang lainnya. Wah, film ini bagus banget lho. Nonton ya. Nach, sekian review dari saya. Terima kasih. Mari kita bicarakan topik selanjutnya. πŸ˜›

Haha, tambah garink aja gue dari hari ke hari. Jadi begini…berhubung gue tercolek dengan sukses oleh film ini, gue jadi sedikit tergelitik mesra untuk menuliskan sedikit review tentang film ini. Jujur, awalnya gue gak terlalu berharap banyak ama film ini. Yach, gue pikir…paling2x film Indonesia biasa tentang anak kecil dan bla bla bla. Tapi…plak…ouch! Gue tertampar. Sekali lagi gue berhasil membuktikan kepada dunia bahwa gue pun tidak sempurna…yach, sama ajalah kaya’Brad Pitt, Antonio Banderas, dan Tom Cruise. Gue tetep bisa bikin salah…walau gue tampan, cakep, seksi, ramah, cerdas, dan segudang karakter penuh kesempurnaan dari buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP) ataupun PPKn (yang alhamdulillah gue lupa singkatannya apa) lainnya yang gak akan gue tulis di sini karena gue orangnya rendah hati, sopan, santun, tenggang rasa, kebersamaan, dll. Ya, gue akui dengan jantan kawan2x semua…gue salah. Ternyata film ini bagus banget. πŸ™‚

Film ini mengambil setting di Papua, pulau yang ternyata indah! Gak cuma karena adanya banyak makhluk tanpa busana (wow!) seperti kuskus, ikan, dan sebagainya (haha!), tapi juga karena alamnya yang mantabh. Iya! Hutannya itu lho…yakin dech gak perlu dites di dokter…cukup diliat aja udah bisa ketauan betapa masih perawan ting2x-nya, gunung2xnya yang berserakan di mana2x juga masih belom pernah dijamah, apalagi hewan2x nakalnya. Haha! Top banget! Salut buat Papua.

Ech, kembali ke film. Film ini mengisahkan tentang anak kampung Papua yang semangat banget pengen sekolah! Gila tuch bocah! Padahal alesannya agak gokil bin aneh. Nich gue kutip, baca dengan logat papua ya : “Nama saya Denias. Mama saya suruh saya sekolah. Karena dia bilang gunung takut pada anak sekolah.” Bwuahahahaha…alesannya…lugu atau bodo…perbedaannya memang setipis pembalut. Hehe!

Kisah dimulai dengan segelintir anak kampung di Papua yang belajar di sekolah darurat yang seadanya aja, gak cuma bangunannya yang tanpa dinding, tapi juga gurunya yang cuma sebatang. Di situlah si makhluk berjudul Denias ini bersekolah. Suatu hari Ibu Denias wafat dengan meninggalkan pesan yang jadi pendorong Denias untuk terus bersekolah. Namun kemudian…sang guru pergi dari Papua. Nach, di sini nich munculnya peran Ari Sihasale sebagai tentara TNI bernama Maleo mencuri hatiku (aih!). Kaya’gitu tuch harusnya TNI! Tak lama, sekolah Denias roboh dan Maleo pun sudah harus pergi dari Papua. Akhirnya Denias pergi ke kota demi melanjutkan sekolah. Anyway, jangan pikir sekolahnya kaya’di Pulau Jawa sini yang jarak tiap sekolahnya cuma sejengkal. Jauh booow! πŸ˜₯

Gue cut ach! Anggep aja Denias ketemu Gatotkaca di tengah jalan, terus Denias dianterin terbang sampai ke kota dech. Padahal aslinya sich berlari bugil kaki ngelewatin banyak gunung dan sungai. Bekal yang dia bawa ke kota cuma bola sepak, buku tulis, dan peta Indonesia bikinan Maleo. Cerita berlanjut hingga dia bertemu teman baru bernama Enos, maling lucu berhati seputih kapas berkulit sehitam batubara berambut Bob Marley. Kisah terus berjalan…hingga Denias bertemu Ibu Gembala yang diperankan Marcella Zalianty. Dia ini nich yang bantuin Denias biar bisa diterima di sekolah. Masih banyak ya orang baik di dunia. Senang. Btw, Denias berjuang lho biar bisa diterima di sekolah. Di sekolah itu dia ketemu musuh bebuyutannya, si anak kepala suku. Wuih keren dech. Udah ach, sekian review-nya.

Oh iya, hampir lupa. Sambutlah pendatang baru kita, pemeran Angel dalam film Denias. Penampilannya yang manis berhasil memberi bumbu romance pada film ini. Yach, sambutlah Pevita Eileen Pearce! Foto di bawah (terlarang untuk para pengidap Lolita Complex dan Pedofilia) :

Pevita Eileen Pearce

Tadi pagi gue liat dia maen iklan Attack Color lho. Bolehlah. πŸ˜‰

Hampir lupa lagi, film ini bener2x didasarkan pada kisah asli lho, cuma namanya agak beda. Nama aslinya Janias, dan sekarang beliau ini bersekolah di Darwin, Australia, dengan beasiswa dari PT. Freeport Indonesia. Salut buat Janias. Salut buat pemeran Denias. Dan salut buat Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen yang berhasil memproduksi sebuah film mengagumkan sebagai film pertama dari rumah produksi yang baru mereka buat, Alenia Pictures. Selamat.

Terakhir, gue anugrahi film ini Budiaji Award sebagai Best Indonesian Movie of The Year. Selamat ya kawan. πŸ˜€

Hadiah Undian

Tertarik melihat gambar di atas? Ingin mendapatkannya? Mudah sekali. Baca keterangan di bawah. Dan saya menjamin anda semua akan mendapatkannya.

Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1427 H yang jatuh dan terpuruk pada tanggal 1 Syawal (ya iyalah!gak penting!), saya secara resmi melakukan undian berhadiah SMS Lebaran.

Detailnya sebagai berikut :

  • Cara mengikuti undian berhadiah ini mudah sekali. Semua orang yang memiliki nomor HP yang telah tersimpan di dalam phonebook HP saya akan secara otomatis mengikuti undian ini. Sedangkan anda yang nomor HP-nya belum tercantum hanya perlu memberikan nomor handphone anda kepada saya. Nomor yang anda kirim akan langsung disimpan ke dalam HP saya. Kemudian anda akan diikutkan ke dalam undian berhadiah ini.
  • Pengundian Tahap I dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2006, dilanjutkan dengan pengiriman hadiah langsung kepada pemenang undian pada tanggal tersebut.
  • Anda yang telah menerima hadiah harus segera memberikan konfirmasi kepada saya di nomor +628158763959. Bila tidak melakukan konfirmasi, maka secara otomatis anda tidak diikutsertakan pada undian berhadiah Lebaran tahun depan.

Pengundian Tahap I telah dilakukan, dan memunculkan 60 pemenang undian berhadiah. Anda yang beruntung adalah sebagai berikut (tersusun menurut abjad) :

1.Aditya Andono Dwi
2. Ady EL’02
3. Agam Febrian
4. Agra DKV’02
5. Ambon DKV’02
6. Andika Wahyu Firdaus
7. Andrew Puger
8. Anky AR’01
9. Arifiandi SH.
10. Arthur Simbolon
11. Bajuri HME
12. Benny Elian
13. Besar Wicaksono
14. Borju SR’02
15. Brian Fernando
16. C.A. Donianto
17. Chaidir Abadi
18. Chairil Hakim
19. Dana EL’04
20. Dhewa NTU’02
21. Dimas Ruliandi
22. Edo EL
23. Edwin Rommel
24. Effendi Sihaloho
25. Erik Brekele
26. Evan A.S.
27. Fadly Hamka
28. Gede Ariadi
29. Intan Bio’02
30. J. Dapot Simarmata
31. Joy Harisvan T.S.
32. Lakso DivKom
33. Lintar Hali Sabrang
34. M. Athoillah
35. M. Denny Aulia Akbar
36. M. Husni Mubarak
37. M. Mi’radj Isnaini
38. Mutiara Dian Sari
39. Nico Prananta
40. Nugroho Dwi Prasetyo
41. Panji Tri Atmojo
42. Panji Utomo
43. Purnomo Widanarto
44. Rahmadina Ramsi
45. Rangga Riseto
46. Renita
47. Ria UNS’02
48. Rizki ITS
49. Rizki Perdana
50. Tanti GD’03
51. Tasha TX’02
52. Tofan Fadriansyah
53. Tofan MS’02
54. Tri Budianto
55. Try Prasetya
56. Vian TS’02
57. Winnu Ayi Satria
58. Yeady Tiffano
59. Zulkipli Nasution
60. Zulfikar DivKom

Selamat kepada 60 orang yang beruntung menjadi pemenang pada Undian Berhadiah Tahap I ini. Hadiah telah dikirimkan kepada anda semua sesuai dengan nomor HP yang tercantum. Bila anda tidak merasa menerima hadiah, silakan lakukan pengaduan ke nomor hotline +628158763959. Operator saya akan dengan senang hati menerima telepon ataupun SMS dari anda.

Sedangkan bagi anda yang belum beruntung karena belum menjadi pemenang pada periode pengundian kali ini, tidak perlu khawatir dan kecewa, apalagi sampai berniat mengakhiri hidup…jangan! Sekali lagi saya katakan JANGAN! Sekali lagi ach…JANGAN! Aaa…pengen lagi ach…JANGAN! Lagi ach…JANGAN! JANGAN! JANGAN! SAY NO TO DRUGS! (lho?) Ini semata2x karena saya tidak memiliki nomor HP anda. Silakan kirimkan nomor HP anda kepada saya, niscaya saya akan mengikutkan nomor anda pada undian Tahap II yang entah kapan akan dilakukan.

Kebetulan sekali semua peserta undian pada Tahap I ternyata menjadi pemenang undian berhadiah. Sekali lagi saya ucapkan selamat. Jangan lupa lakukan konfirmasi. Ingat! Jangan lupa konfirmasi. Saya ingatkan lagi…jangan lupa konfirmasi. Dan jangan lupa sikat gigi, basuh muka, cuci kaki, dan berdoa sebelum tidur. Terima kasih.

PS. : Hadiah undian kali ini adalah SMS Selamat Lebaran dari Budiaji Hartono.

PS. lagi : SMS yang kamu terima, langsung dari HP-ku lho. πŸ˜›

Lagi2x PS. : Panitia tidak bertanggungjawab terhadap segala penipuan atau kecurangan lainnya yang terjadi di lapangan dengan mengatasnamakan Budiaji Hartono.

PS. lagi ach : Pajak Hadiah tidak ditanggung pemenang lho.

Sekian.

Hampir lupa…kali ini PS. terakhir dech…beneran! Gak boong! Di atas ada tulisan “Tertarik melihat gambar di atas? Ingin mendapatkannya? Baca keterangan di bawah.” Nach…udah dibaca baik2x kan tulisannya? Okay…bagi yang ingin mendapatkan gambar hadiah di atas…langsung aja klik kanan pada gambar, kemudian lakukan save image. πŸ˜€

Lebar yang mana

Lihat gambar…lebih lebar yang mana? A atau B?

Iya…kepanjangan dari kata Lebaran itu sebenarnya adalah “lebar-lebaran”. Kata ulang berimbuhan ini memiliki arti bahwa beberapa hal saling beradu untuk menentukan sesuatu yang lebih daripada yang lain. Jadi, kata lebar-lebaran ini artinya kita saling beradu siapa yang lebih lebar…siapa yang lebih wah…siapa yang lebih wow…!

Nach, sesuai dengan pengertian ini, makanya setiap menjelang Lebaran orang2x pada hobi belanja, entah itu beli baju Lebaran maupun kue Lebaran. Semuanya baru. Dan bukan gak mungkin ada juga yang namanya mobil Lebaran, rumah Lebaran, istri Lebaran, dll. Perhatikan bahwa kata Lebaran selalu muncul di belakang kata pertama yang mengartikan bahwa barang yang disebutkan pada kata pertama merupakan barang yang memang diperuntukkan untuk dipakai pada momen Lebaran saat itu saja. Selepas Lebaran gimana donk? Ya…terserah dia lah.

Dan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi jika suatu barang akan dibeli untuk momen Lebaran tersebut. Salah satu syarat yang dimaksud adalah syarat yang sesuai dengan makna Lebaran itu sendiri, yaitu bahwa barang tersebut haruslah lebih lebar, lebih wah, dan lebih wow daripada yang lain. Makanya jangan heran kalau tiap Lebaran, orang2x berusaha untuk tampil lebih kece daripada orang lain, pake baju baru, sarung baru, ataupun sandal baru. Dan ada pula yang bener2x nenteng istri baru.

Di kalangan ekonomi atas, fenomena lebar-lebaran ini bisa muncul pada berbagai macam barang Lebaran. Mulai dari pembantu Lebaran, hingga kapal pesiar Lebaran. Sedangkan pada kalangan ekonomi menengah, fenomena ini terlihat mulai dari kue Lebaran, pakaian Lebaran, hingga perabot rumah Lebaran. Ada lagi yang lebih wah! Kalangan ekonomi bawah justru lebih buas saat menjelang lebaran gini. Belanjanya gak ketulungan! Entah beli kacamata hitam Rayban Lebaran, handphone Lebaran, hingga perhiasan emas Lebaran. Ckck.

Gak cuma orang yang make barang doank lho yang suka lebih2xan gitu. Sang penjual barang pun gak mau ketinggalan trend ini. Liat aja, harga barang2x pada naik. Mulai dari penjaja minuman, penjaja sayuran, hingga penjaja seks yang berani turun ke jalanan pun menaikkan tarifnya.

Okay, setelah barang2x tadi dibeli…it’s show time! Tinggal pamerin dech. Ajang pamer2x ini biasanya terjadi ketika orang2x saling berkunjung untuk halal bi halal selepas shalat Ied. Biasalah…biasanya di rumah pas ibu2x ngobrol. Apakah anda pernah dengan benar2x memerhatikan percakapan para ibu tersebut? Mari kita saksikan!

Ibu A : “Ya ampun Jeng, kalung platina 24 karat 100 gram-nya bagus banget!”
Ibu B : “Ach…Ibu bisa aja…biasa…cuma pake shampo kok.”
Ibu A : “Oh…gitu…! Anak Ibu yang perempuan itu cantik ya.”
Ibu B : “Iya…mirip nenek moyangnya kan?”

Anda lihat? Demikianlah percakapan yang terjadi. Ajaib memang.

Anyway, oleh karena itu kawan2x, mari kita sukseskan Lebaran. Ayo ramaikan pusat perbelanjaan. Setelah 30 hari berpuasa, sudah saatnya kita manjakan diri kita. Tiada hari tanpa belanja. Yes!

—cast—
Pemeran Ibu A = jari tangan kanan penulis
Pemeran Ibu B = jari tangan kiri penulis

Hijrah ke TelkomnYet…!

October 21, 2006

koneksi telkomnyet

TelkomnYet…ini bukan salah satu ISP kita lho…dan ini bukan rekayasa…! Kemiripan nama bukanlah kesengajaan. Penulis tidak bertanggung jawab terhadap segala akibat dari gambar di atas. Lihat gambar di atas…perhatikan tab connection status. πŸ˜›

Yach, akhirnya hijrah juga dech gue ke TelkomnYet…! Hehe! Kirain aksesnya lelet…tapi ternyata gak tuch…cukup cepet juga. Apa karena gue online Subuh2x gini ya? Di saat orang lain ada yang shalat, ada yang ngaji, ada yang bobo, ada yang maen bola (di Italia…barusan liat di tipi), ada yang makan (entah di belahan dunia mana),…gue malah online dari sini. Hoho!

Online dari mana? Dari sini. E? Dari sini? Iya…! Dari mana tuch? Depan komputer. Bukan…maksudnya loe online dari kampus…atau dari rumah…atau? Oh…itu…gue online dari rumah gue di Jakarta.

Hah?! Iya…gue udah di Jakarta kawan2x semua. Ayo…teriakkan hip-hip huraaa! Aku tahu kalian bahagia. Ya! Angkat kedua tangan kalian ke atas…kedua kaki juga ke atas…dan yak…kalian pasti jatuh…! Hhh…apa sich…pagi2x udah gak jelas gini. Btw, gue baru aja nyampe kota metropolitan tercinta Sabtu siang kemaren. Berangkat dari Bandung jam 12 naek Panty (mobil Panther kesayangan gue), sampe Jakarta jam 2 kurang. Cepet banget. Kirain tol dari Bandung ke Jakarta bakal ditutup…tapi ternyata gak tuch. Isu…dasar…bikin ngeri aja.

Ech, Jakarta kok hangat begini sich?! Nyamuknya banyak pula. Gila…baru berapa taun gue tinggalkan. Udah berubah jadi gini. Padahal Jakarta yang gue inget tuch tempatnya rimbun…penuh pepohonan, bersih…gak ada sampah, sungainya jernih…banyak perempuan mandi di situ (wow!), udaranya segar…gak ada polusi, orang2x tersenyum riang, burung2x bersinar, bunga2x berkicau, dan matahari bermekaran. Indahnya. Haha, bo’ong banget ya. πŸ˜†

Yach, tapi…beginilah Jakarta. Oi, kapan anak2x Jakarta mau ngumpul? Kabarin gue ya. Nyam, gue ngantuk…bobo dulu ach. Ada yang mau ikut? πŸ˜‰ Yuuuk!

Ech…bentar2x…gue mau curhat dikit. Terakhir. Begini kronologinya…! Kejadian ini mengambil tempat di Lab. Telematika Teknik Elektro Lantai IV Labtek VIII pada hari Jumat pukul 1/2 4 sore. Gue lagi berada di situ bersama seonggok anak EL lain. Lagi asik2x ngebrowsing…tiba2x ada sebatang dosen masuk ke lab. Wow…jelas kaget…mana ada dosen yang mau masuk ke Telmat?! Ternyata itu Pak BK. Tiba2x dia teriak2x…”Keluar…keluar!” E? Jelas gue tambah bengong. Ada apaan nich? Akhirnya kita2x pada keluar dech. Nyampe di luar…ternyata lantai 4 Labtek VIII mau digembok selama liburan. Bwuaaaaaaaaa! Tambah syok dach gue. Akhirnya anak2x laen langsung dengan segera mematikan Y!M, matiin komputer, cabut kabel2x, buka baju, lepas celana, terus bobo. Hm…bentar…kaya’nya ada yang salah…kok pake buka baju, celana, dan bobo segala ya? Kaya’nya gak gitu dech. Back to topic…akhirnya anak2x yang kebetulan ada di situ langsung pada nggotong komputernya balik. Sementara gue…yach…pupus rencana gue untuk donlot2x bekal “film” buat konsumsi liburan. Yach…jadi…inilah gue…gak ada kerjaan…dan akhirnya malah nyampah di blog gue ini. Cih. Dasar Elektro…! 😐